Penulis: Syafaat Sutan Manacha
Tahukah kalian hal yang paling menyebalkan di dunia ini?
Bukan dimarahi atasan dengan suara tinggi. Bukan pula lembur tanpa jeda hingga mata perih. Melainkan momen saat kau pulang kerja, terjebak di sebuah halte yang sepi, ditemani hujan yang dinginnya menusuk tulang, sementara bus yang kau tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Malam ini, aku berada tepat di titik nadir itu.
Di kantor tadi, aku habis dimaki-maki bos, dipaksa lembur, dan dituntut menyelesaikan pekerjaan dengan tenggat yang jatuh malam ini juga. Sepanjang hari aku menggerutu, menimbun gumpalan kesal di dada yang tak sempat kubuang. Namun, jika kupikir kembali, kesialan ini sebenarnya tidak bermula di meja kantor. Sejak pagi, semesta seolah telah menyiapkan jebakannya dengan sangat rapi.
Hari ini aku seharusnya berangkat dengan motor kesayanganku, namun ban yang bocor parah tepat saat aku hendak menarik gas merusak segalanya. Aku terpaksa meninggalkannya begitu saja di garasi, lalu berlari mengejar angkutan umum dengan napas tersengal. Akibatnya? Aku terjebak macet hingga datang terlambat dan kena tegur. Dan puncaknya, saat hendak pulang, aku baru sadar kartu bus milikku tertinggal di laci kantor. Mau tak mau, aku kembali naik ke lantai atas hanya untuk mengambil sepotong plastik itu, hingga akhirnya aku terdampar di sini. Di halte ini. Awal dari segala drama malamku.
Sekali lagi, aku mengutuk diri sendiri atas nasib yang terus-menerus menimpaku.
“Teet, teet, teet!”
Tidak bisakah kalian bersabar? kutukku dalam hati pada para pengemudi yang terus meneriakkan klakson yang sama sekali tak ada merdunya itu. Hujan deras membuat banyak orang kehilangan akal sehat dan memilih berdesakan dengan taksi atau kendaraan pribadi. Jalanan menjadi sungai logam yang macet, dipenuhi suara klakson yang saling menyahut, seolah semua orang sedang berlomba untuk segera pergi dari malam yang terkutuk ini. Kemacetan itu pula yang membuat bus yang kunantikan terasa semakin jauh dari jangkauan harapanku.
Sungguh malam yang menyebalkan. Halte yang sepi, tempias hujan yang mulai membasahi sepatu, dan simfoni klakson mobil yang terdengar seperti ejekan panjang terhadap sisa-sisa kesabaranku. Aku ingin sekali berteriak sekeras mungkin, melepaskan semua beban yang mengganjal di tenggorokan. Namun, aku masih punya sedikit kewarasan untuk tidak ingin dianggap gila oleh orang asing, meski sebenarnya pikiranku sudah mulai menggila sejak tadi.
Kadang aku bertanya-tanya, bisakah nasib benar-benar bersekongkol hanya untuk membuat hariku hancur berantakan? Seolah ia dengan sengaja menyusun kekeliruan kecil satu per satu, menjahitnya menjadi satu jubah penderitaan hanya untuk memastikan aku tiba di detik ini basah, lelah, dan sendirian.
Barangkali nasib sedang menyiapkan kejutan di penghujung malam? Sesuatu yang akan membuat semua rentetan kesialan ini tak lagi berarti? Entahlah, mungkin aku hanya sedang berusaha menghibur diri sendiri agar tidak menangis di tempat umum. Aku hanya berharap kesialan hari ini cukup berhenti di halte ini. Tidak perlu ikut pulang ke rumah, apalagi sampai berani bangun bersamaku esok pagi.
Sebuah bus akhirnya muncul dari balik kabut hujan di kejauhan. Senyumku sempat mengembang tipis, ada secercah harapan yang muncul. Namun, senyum itu segera runtuh seiring bus itu mendekat. Begitu pintunya terbuka, pemandangan di dalamnya membuat hatiku mencos; penumpang penuh sesak hingga menempel di kaca. Tak ada ruang sedikit pun bagiku untuk menyelinap masuk.
Bersamaan dengan pintu bus yang tertutup kembali, ponsel di tanganku satu-satunya hiburan yang tersisa di tengah kesialan malam ini mendadak layarnya menghitam. Mati total karena kehabisan baterai.
Untuk terakhir kalinya malam ini, aku berteriak dalam diam. Mengutuk nasib, mengutuk hujan, dan mengutuk malam yang terasa seperti sedang berdiri tepat di depanku, tertawa terbahak-bahak menertawakanku.
Tentang Penulis:
Potongan kisah di atas merupakan bagian dari buku terbaru Syafaat Sutan Manacha berjudul “Diari Sang Malam”. Sebuah antologi rasa tentang malam-malam panjang di Jakarta dan rahasia yang tersembunyi di balik setiap sudut kota. Ikuti perjalanannya di Instagram @faats6196.




