RumpikotaCom – Kekalahan 1-3 Inter Milan dari Arsenal di Giuseppe Meazza pada lanjutan Liga Champions (22/1) bukan sekadar hilangnya tiga poin. Laga ini menjadi cermin paling jujur bagi era baru Nerazzurri di bawah asuhan Cristian Chivu sepanjang musim 2025/2026 ini: Menghibur, Meledak-ledak, namun Naif.
Sejak mengambil alih kursi pelatih, Chivu telah mengubah DNA Inter dari mesin penguasaan bola yang sabar ala Inzaghi, menjadi monster pressing yang vertikal. Namun, laga melawan The Gunners mengekspos celah menganga dalam sistem ini.
Berikut adalah analisis mendalam gaya main Inter Milan musim ini dan mengapa mereka tersandung keras di Eropa.
1. Revolusi Formasi: Selamat Tinggal 3-5-2 Klasik
Perubahan paling radikal yang dibawa Chivu adalah fleksibilitas formasi. Meski di atas kertas sering tertulis 3-5-2, di lapangan Inter bermain dengan hibrida 3-4-2-1.
-
Peran Ganda Trequartista: Chivu sering mendorong Nicolo Barella atau talenta muda Petar Sučić lebih naik, beroperasi di “kantong” (half-space) di belakang striker tunggal.
-
Bek Sayap Agresif: Dimarco dan Dumfries (atau penggantinya) tidak lagi sekadar wingback, mereka sering beroperasi setinggi winger murni, memaksa bek tengah sisi luar (LCB/RCB) untuk naik menutup ruang tengah.
Poin Kunci: Inter kini lebih fokus pada overload (menumpuk pemain) di lini depan untuk menyelesaikan serangan secepat mungkin, bukan memutar bola.
2. Filosofi “Verticalità”: Menyerang Tanpa Rem
Jika ada satu kata untuk mendeskripsikan Inter musim 2025/26, itu adalah: Vertikal.
Statistik Serie A menunjukkan Inter adalah tim dengan Direct Speed (kecepatan memindahkan bola ke depan) tertinggi di liga. Chivu menginstruksikan pemainnya untuk langsung mencari umpan terobosan begitu bola direbut.
Dampaknya:
-
Positif: Di liga domestik, tim-tim yang bertahan rendah (Low Block) seperti Bologna atau Parma hancur lebat kecepatan kombinasi satu-dua sentuhan Inter.
-
Negatif: Akurasi umpan Inter menurun drastis dibanding musim lalu karena tingginya risiko umpan yang dilepaskan.
3. Studi Kasus: Mengapa Arsenal Bisa Menang Mudah?
Laga melawan Arsenal adalah contoh sempurna ketika taktik “berani mati” Chivu bertemu dengan tim yang pragmatis dan klinis. Mikel Arteta dengan cerdik mengeksploitasi dua kelemahan utama sistem Chivu:
-
Garis Pertahanan “Bunuh Diri”: Inter menerapkan garis pertahanan (high line) yang sangat tinggi. Arsenal, dengan kecepatan Gabriel Jesus dan Saka, berkali-kali lolos dari jebakan offside. Gol pertama Arsenal lahir murni karena bek Inter berada di garis tengah lapangan tanpa tekanan yang cukup pada pemegang bola lawan.
-
Transisi Bertahan yang Lambat: Saat Inter kehilangan bola di sepertiga akhir, para gelandang (yang terlalu asyik menyerang) terlambat turun. Gol ketiga Arsenal oleh Viktor Gyökeres adalah hukuman klasik serangan balik 3-lawan-2 yang gagal diantisipasi struktur pertahanan Inter.
4. Sinar Terang: Petar Sučić dan “Mentalitas Primavera”
Meski kalah, Chivu patut diacungi jempol atas keberaniannya mempromosikan pemain muda. Gelandang muda Kroasia, Petar Sučić, menjadi wahyu musim ini.
Gol indahnya ke gawang Arsenal menunjukkan mengapa Chivu mempercayainya. Sučić adalah representasi sempurna era Chivu: bertenaga, berani menembak dari jarak jauh, dan tak kenal takut. Chivu tidak ragu memarkir pemain senior demi menjaga intensitas lari tim tetap tinggi.
Evaluasi untuk Sisa Musim
Cristian Chivu telah berhasil membuat Inter Milan kembali menjadi tontonan yang mendebarkan. Tidak ada lagi permainan membosankan di San Siro. Namun, sepak bola level elit Eropa menuntut lebih dari sekadar gairah menyerang; ia menuntut keseimbangan.
Kekalahan dari Arsenal membuktikan bahwa “Nerazzurri Verticale” masih terlalu polos untuk panggung Liga Champions. Jika Chivu tidak segera memperbaiki struktur transisi bertahannya (Rest Defense), Inter mungkin akan menjadi raja di Italia, namun hanya menjadi penggembira di Eropa.




