RumpikotaCom – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor terlemahnya sepanjang sejarah. Pada perdagangan intraday Selasa (19/5/2026), mata uang Garuda terus bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.728 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang bergerak semakin agresif sepanjang tahun berjalan (year-to-date). Jika ditarik dari posisi penutupan akhir tahun lalu yang berada di level Rp16.670/US$, rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 6,30% atau merosot lebih dari Rp1.050.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini sejatinya mulai terakselerasi sejak April lalu, di mana rupiah untuk pertama kalinya jebol ke atas angka Rp17.000. Hanya dalam waktu satu bulan, pelemahan berjalan kian liar hingga puncaknya terjadi pada Senin (18/5/2026) kemarin, saat rupiah mencatat penurunan harian terdalam ke posisi Rp17.640/US$, sebelum akhirnya terus tergerus hingga area Rp17.728/US$ hari ini.
Kombinasi Sentimen Global dan Siklus Domestik
Para ekonom menilai kejatuhan rupiah ke titik terendahnya disebabkan oleh kombinasi tekanan eksternal dan siklus tahunan di dalam negeri.
Secara global, memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dan proteksionisme dagang AS di bawah kepemimpinan Donald Trump menjadi pemicu utama. Kondisi ini memicu aksi flight to quality, di mana para investor global serentak menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) berbasis dolar AS.
Sementara dari dalam negeri, tekanan diperberat oleh siklus musiman triwulan II. Pada periode ini, permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik melonjak tajam akibat tingginya kebutuhan korporasi untuk melakukan pembayaran dividen kepada pemegang saham asing serta pelunasan kewajiban utang luar negeri.
Ancaman Imported Inflation Mengintai Sektor Riil
Merosotnya nilai tukar rupiah ini mulai menimbulkan kekhawatiran serius di sektor riil. Meskipun pemerintah sempat berhasil meredam gejolak harga pangan selama momentum Ramadan dan Idulfitri melalui subsidi serta operasi pasar, efek intervensi tersebut kini mulai memudar.
Tingginya kurs dolar AS dalam jangka waktu lama diprediksi akan mengerek biaya bahan baku industri yang mengandalkan impor. Jika kondisi ini terus berlanjut, produsen kemungkinan besar akan membebankan kenaikan biaya produksi ke harga jual di tingkat konsumen. Dampaknya, Indonesia dibayangi ancaman inflasi dari barang impor (imported inflation), mulai dari komoditas pangan hingga komponen produk digital dan elektronik.
Langkah Antisipasi: Menghadapi volatilitas yang tinggi ini, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan terus memperketat pengawalan di pasar keuangan melalui strategi triple intervention. Langkah intervensi secara terukur di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) diharapkan mampu menstabilkan pergerakan rupiah agar tidak bergerak terlalu jauh dari nilai fundamentalnya.







