RumpikotaCom – Di sebuah rumah sederhana di Peneleh, Surabaya, seorang tokoh besar bernama H.O.S. Tjokroaminoto pernah memberikan wejangan yang melintasi zaman: “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”
Bagi kita yang hari ini bergerak di lini massa—baik sebagai wartawan yang memegang pena maupun aktivis yang memegang mikrofon—pesan ini bukan sekadar teknik berkomunikasi. Ia adalah sebuah mandat moral tentang bagaimana perubahan seharusnya diciptakan.
1. Menulis Seperti Wartawan: Ketajaman dan Integritas
Menulis “seperti wartawan” dalam konteks Tjokroaminoto adalah tentang keberanian menyajikan kebenaran di tengah sensor kolonial. Bagi wartawan dan aktivis modern, refleksi ini mengajarkan bahwa tulisan bukan sekadar deretan kata di layar gawai, melainkan senjata untuk membongkar ketidakadilan.
Wartawan dituntut memiliki ketajaman dalam membedakan fakta dan propaganda, sementara aktivis perlu menuangkan gagasan mereka dalam narasi yang berbasis data, bukan sekadar emosi. Menulislah dengan disiplin verifikasi, karena tulisan yang jujur akan tetap abadi meski penulisnya telah tiada.
2. Berbicara Seperti Orator: Menggerakkan Nurani
Kemampuan bicara Tjokroaminoto dikenal mampu menghipnotis ribuan orang. Namun, orasi beliau bukan omong kosong. Orasi itu adalah muara dari keresahan rakyat yang ia rasakan.
Bagi aktivis, berbicara seperti orator berarti mampu menyuarakan jeritan mereka yang tak terdengar. Ini bukan soal suara yang lantang, melainkan soal resonansi makna. Seorang aktivis dan wartawan harus mampu mengomunikasikan isu-isu kompleks menjadi pesan yang mampu menyentuh nurani publik dan menggerakkan perubahan nyata.
3. Sinergi Ilmu, Tauhid, dan Siasat
Refleksi ini tak lengkap tanpa trilogi legendaris beliau: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
- Ilmu: Wartawan dan aktivis tidak boleh berhenti belajar agar tidak mudah dimanipulasi.
- Tauhid (Prinsip): Memiliki pegangan moral yang teguh agar tidak mudah “dibeli” oleh kepentingan kekuasaan.
- Siasat: Kemampuan membaca strategi dan momentum agar perjuangan tidak sia-sia.
Penutup: Kembali ke Khittah
Di era banjir informasi ini, kutipan Tjokroaminoto adalah pengingat bahwa profesi wartawan dan peran aktivis adalah dua sisi dari koin yang sama: Pencerahan.
Mari bertanya pada diri sendiri: Apakah tulisan kita hari ini sudah mencerdaskan pembaca? Apakah suara kita hari ini sudah membela mereka yang tertindas? Jika belum, mungkin kita perlu kembali menengok ke Peneleh, belajar lagi dari sang “Raja Tanpa Mahkota” tentang bagaimana seharusnya seorang pelayan rakyat beraksi.




