Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
InspirasiInternasionalJabodetabekNewsOpiniPendidikan

Pemuda ICMI Kota Bekasi Sukses Gelar Dialog Lintas Agama Internasional, Akankah Indeks Toleransi Kota Bekasi Meningkat?

5
×

Pemuda ICMI Kota Bekasi Sukses Gelar Dialog Lintas Agama Internasional, Akankah Indeks Toleransi Kota Bekasi Meningkat?

Share this article
Example 468x60

Rumpikota.com – Majelis Pengurus Daerah (MPD) Pemuda ICMI Kota Bekasi yang dipimpin H. Imamuddin sukses menyelenggarakan International Youth Interfaith Dialogue 2026 pada 2 Mei 2026, sebuah forum yang mempertemukan delegasi pemuda dari berbagai negara dan keyakinan untuk mendiskusikan perdamaian dan toleransi beragama. Di Kampus Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI).

Acara yang berlangsung semarak dan dihadiri beberapa tokoh diantaranya Walikota Bekasi, diapresiasi banyak pihak sebagai langkah konkret generasi Z dan Milenial dalam mengambil peran yang selama ini tampak kurang terisi oleh anak muda Kota Bekasi. Namun, di balik kemeriahan acara tersebut, terselip kritik mengenai kondisi kerukunan umat beragama di internal Kota Bekasi yang dulu sempat di posisi ke Dua kini kelima.

Keberhasilan Pemuda ICMI ini dianggap sebagai “sindiran keras” bagi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi. Maulana Sani Dosen Millenial Universitas BSI yang akrab dipanggil Bang Sani mengatakan seolah ada ketimpangan energi yang luar biasa antara inisiatif komunitas kepemudaan dengan lembaga resmi yang dibiayai negara.

Kritik tersebut tertuju pada komposisi kepengurusan FKUB Kota Bekasi yang dinilai tidak lagi relevan dengan tantangan zaman. Isu kurang energi menjadi sorotan utama, mengingat lembaga ini masih didominasi oleh tokoh-tokoh yang secara usia dianggap sudah tidak produktif untuk terjun ke lapangan menangani konflik horizontal yang semakin kompleks, Bang Sani menganggap Pengurus FKUB sepertinya terlalu sibuk dengan program study banding, sehingga para pemuda ICMI mengadakan kegiatan besar semacam ini tanpa dukungan anggaran signifikan dari FKUB yang mendapatkan anggaran besar dari Pemerintah Kota Bekasi.

“Cukup ironis, ketika pemuda kita sudah bicara di level internasional, namun lembaga yang menaungi kerukunan di tingkat lokal justru dipimpin oleh seorang tokoh senior yang sudah berusia di atas 80 tahun. Ini bukan masalah diskriminasi usia, tapi masalah kecepatan respons dan pemahaman terhadap dinamika sosial digital saat ini,” ujar Bang Sani selaku Akademisi Millenial Kota Bekasi.

Bang Sani juga menyoroti ketidakmampuan FKUB dalam melakukan regenerasi dan inovasi program, sehingga disinyalir menjadi penyebab utama anjloknya prestasi Kota Bekasi dalam menjaga harmoni dan prestasi. Data terbaru menunjukkan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kota Bekasi turun, dari yang semula pernah di peringkat kedua nasional, kini merosot ke peringkat kelima.

Penurunan ini seharusnya dijadikan sebagai alarm bahaya bagi kita semua, bisa jadi karena kurangnya Mediasi Proaktif FKUB karena dinilai bekerja secara administratif tanpa menyentuh akar rumput, terutama dari kalangan Muda selaku penduduk terbanyak di Kota Bekasi.

Kepemimpinan “Geriatri” yang di dominasi pengurus berusia senja menghambat komunikasi dengan kelompok muda yang lebih rentan terpapar radikalisme digital, seperti dunia medsos yang bergerak cepat-aktif.

Serta tidak adanya terobosan teknologi atau pendekatan sosiologis baru dalam memetakan potensi konflik.

Di tengah menurunnya kinerja FKUB, harapan itu muncul dari Kampus UMI melalui kegiatan International Youth Interfaith Dialogue 2026 di Universitas Muhammadiyah Indonesia seolah memberikan oase bagi kaum muda. Forum ini membuktikan bahwa kerukunan bukan sekadar simbolisme seremonial, melainkan kerja nyata yang membutuhkan kecerdasan diplomasi dan energi besar, Bang Sani mengapresiasi pihak kampus yang terbuka bagi para Cendikiawan Muda.

Bang Sani menambahkan sebaiknya ada reformasi di tubuh FKUB Kota Bekasi. Keberhasilan Pemuda ICMI diharapkan menjadi momentum bagi Pemerintah Kota untuk menyadari bahwa urusan kerukunan tidak bisa lagi diserahkan kepada sosok yang hanya mengandalkan “senioritas” melainkan orang yang hidup dijaman ini yang memiliki kompetensi mumpuni di era disrupsi teknologi dan informasi seperti saat ini.

 

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *