RumpiKotaCom, Jakarta— Ada yang berbeda dari denyut musik lama yang kembali terdengar hari ini. Bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah pembaruan. Spirit Band 86 memilih jalan yang jarang ditempuh: menghidupkan kembali karya lama dengan napas baru.
Lewat single “Hanya Gairah”, band jazz fusion pop yang sempat aktif di era 1980–1990-an ini menandai fase comeback mereka. Namun alih-alih hanya mengandalkan kenangan, Spirit Band 86 justru merombak identitas musikalnya agar tetap relevan di tengah lanskap industri musik yang kini dikuasai platform digital dan selera Generasi Z.
Didirikan pada 1986 oleh Eramono Soekaryo, Spirit Band 86 pernah menjadi bagian dari geliat jazz Indonesia di masanya. Album Mentari yang dirilis pada 1992 menjadi salah satu jejak penting sebelum akhirnya mereka vakum sejak 1996. Kini, hampir tiga dekade berselang, band ini kembali dengan pendekatan yang lebih adaptif.
Konsep yang mereka usung sederhana, namun kuat secara strategi: produk lama rasa baru.
“Kami tidak ingin sekadar mengulang masa lalu. Lagu-lagu lama kami aransemen ulang dengan pendekatan kekinian, tapi tetap menjaga warna jazz fusion sebagai identitas,” ujar Eramono Soekaryo.
“Hanya Gairah” menjadi contoh paling konkret dari pendekatan tersebut. Lagu yang sebelumnya hadir dengan nuansa shuffle khas era 90-an kini tampil lebih dinamis—tempo dipercepat, ritme diperbarui, dan sentuhan produksi disesuaikan dengan standar musik internasional saat ini.
Meski begitu, esensi cerita tetap dipertahankan. Lagu ini masih berbicara tentang hubungan dua sahabat yang perlahan berubah menjadi cinta—tema yang terasa klasik, namun selalu relevan di berbagai generasi.
Yang juga menarik, Spirit Band 86 kini hadir dengan formasi lintas generasi:
Adrian Eramono (gitar)
Jay Danu Prasetyo (keyboard & synthesizer)
Lili Amelia (vokal)
Eramono Soekaryo (keyboard)
Perpaduan ini menciptakan keseimbangan antara pengalaman dan eksplorasi baru—sebuah pendekatan yang semakin sering ditemui di industri musik global.
Di tengah tren kebangkitan musik lawas yang dikemas ulang—baik melalui sampling, remake, hingga re-aransemen—langkah Spirit Band 86 terasa relevan. Generasi Z, yang kini menjadi pasar dominan, justru menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap musik era sebelumnya, selama dikemas dengan pendekatan modern.
Bagi Spirit Band 86, ini bukan sekadar comeback, tetapi juga strategi jangka panjang. Mereka tidak hanya merilis ulang katalog lama, tetapi juga mempersiapkan materi baru, sembari mengoptimalkan distribusi digital dan potensi royalti di berbagai platform streaming.
“Kami ingin karya lama kami hadir dengan kualitas produksi yang sesuai standar sekarang, dan bisa menjangkau lebih banyak pendengar,” kata Eramono.
Ke depan, band ini berencana kembali aktif di panggung—mulai dari festival jazz hingga tur kafe—serta membuka peluang kolaborasi lintas generasi.
Pada akhirnya, Spirit Band 86 seolah membuktikan satu hal sederhana: musik tidak pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali, dengan cara yang tepat.













