Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Hiburan

Aurelie Moeremans Tanggapi Polemik Buku Broken Strings, Tegaskan Bukan Cari Sensasi atau Balas Dendam

1
×

Aurelie Moeremans Tanggapi Polemik Buku Broken Strings, Tegaskan Bukan Cari Sensasi atau Balas Dendam

Share this article
Aktris sekaligus penulis Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara terkait polemik yang muncul usai peluncuran bukunya berjudul Broken Strings. ( Dok Instagram pribadi).
Example 468x60

RumpiKotaCom, JAKARTA – Aktris sekaligus penulis Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara terkait polemik yang muncul usai peluncuran bukunya berjudul Broken Strings. Buku tersebut menuai perhatian publik karena memuat pengakuan Aurelie sebagai korban child grooming serta trauma masa kecil yang selama ini ia pendam.

Beragam respons pun bermunculan, mulai dari dukungan luas hingga kritik dan perdebatan di media sosial.

Menanggapi hal itu, Aurelie menegaskan bahwa keputusannya menulis Broken Strings dilandasi kejujuran dan proses penyembuhan diri, bukan untuk mencari sensasi atau keuntungan komersial.

“Jujur aku tidak menyangka responsnya akan sebesar ini. Awalnya aku pikir buku ini hanya dibaca secara terbatas.

Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses,” ujar Aurelie Moeremans saat dihubungi awak media, Rabu (14/1/2026).
Menurut bintang film Kuntilanak tersebut, respons paling menyentuh justru datang dari perempuan muda dan para orang tua yang merasa terbantu setelah membaca bukunya.

“Banyak yang bilang mereka merasa tidak sendirian. Itu yang membuat semua ketakutan di awal terasa sepadan,” lanjutnya.

Butuh Bertahun-tahun untuk Berani Bersuara

Aurelie mengungkapkan, pengalaman traumatis di masa kecil membuatnya membutuhkan waktu panjang untuk akhirnya berani menuliskan kisah tersebut. Ia mengaku, saat masih kecil dan mencoba bersuara, respons yang diterima justru menyakitkan.

“Awalnya tulisan ini bukan untuk konsumsi publik. Aku menulis sebagai bentuk kejujuran pada diri sendiri. Ada trauma untuk bercerita, karena dulu saat mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan,” kata Aurelie.

Seiring waktu, ia menyadari banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa, namun merasa sendirian. Dari situlah muncul dorongan untuk membagikan kisahnya.

Aku merasa, mungkin ceritaku bisa menjadi teman bagi mereka,” ujarnya.

Tegaskan Bukan untuk Balas Dendam
Menanggapi tudingan soal motif tersembunyi, Aurelie menegaskan bahwa Broken Strings bukanlah upaya balas dendam atau membuka luka lama demi viralitas.

“Menulis buku ini bukan tentang balas dendam. Ini tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku, tanpa membenarkan hal yang salah,” tuturnya.

Ia menyebut proses menulis justru membantunya berdamai dengan masa lalu dan melihat hidupnya secara lebih utuh.

E-book Gratis, Tegaskan Bukan Tujuan Komersial

Aurelie juga menepis anggapan bahwa ia mengejar keuntungan finansial dari pengungkapan trauma pribadinya. Sebagai bukti, ia menyediakan versi e-book Broken Strings secara gratis agar bisa diakses siapa saja.

“Dari awal tujuanku bukan komersial. Aku ingin cerita ini bisa diakses siapa pun yang membutuhkan, tanpa hambatan. Buku fisik tetap ada, tapi e-book gratis itu adalah bentuk niat awal buku ini,” jelasnya.

Dengan langkah tersebut, Aurelie berharap Broken Strings dapat menjadi ruang aman bagi para penyintas trauma, sekaligus membuka diskusi yang lebih luas tentang isu child grooming dan kesehatan mental.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *