RumpikotaCom – Konsep yang ideal mengenai hubungan antara negara & agama menjadi sangat penting khususnya bagi umat Islam yang ingin menerapkan Syariat Islam ke masyarakat, namun selalu berbenturan dengan kaum sekuler yang ingin memisahkan antara negara & agama, sehingga benturan ini menimbulkan konflik yang terjadi di mana-mana & menimbulkan trauma Islamphobia di masyarakat.
Ada jalan tengah untuk mengakomodasi kebutuhan umat Islam yang ingin menerapkan Syariat Islam & kaum sekuler yang ingin memisahkan antara negara & agama, dan jalan tengah ini adalah Sinkretisme (bisa dilihat pada poin ke-3 di gambar).
Pada konsep Sinkretisme, negara secara fisik/harafiah bersifat sekuler namun secara batiniah bisa menjiwai/menghidupi nilai-nilai agama (baik nilai-nilai agama yang bersifat khusus (di ranah privat) maupun nilai-nilai agama yang bersifat universal (di ranah publik)) melalui proses sinkronisasi (sinkronisasi nilai-nilai agama yang bersifat universal). Sehingga sebenarnya, konsep Sinkretisme berasal dari kombinasi antara “sekuler + sinkronisasi (sinkronisasi nilai-nilai agama yang bersifat universal)”.
Konsep sinkretisme ini sebenarnya sudah dijalankan oleh banyak negara-negara di dunia (termasuk oleh negara Indonesia), namun belum pernah ada pihak yang meng-visualisasi-kan secara matematika mengenai model relasi antara negara & agama, sehingga kebanyakan orang tidak mampu menjelaskan secara ilmiah mengenai model relasi yang ideal antara negara & agama, namun hanya menjelaskan secara kabur meski mereka menjalani konsep Sinkretisme tersebut pada kehidupan bernegaranya.
Semoga pengetahuan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian.


