RumpikotaCom – Punggung dengan lingkaran merah keunguan kini bukan lagi pemandangan asing, mulai dari tempat praktik tradisional hingga pusat kebugaran elit. Namun, di balik tren kesehatan modern ini, tersimpan narasi panjang sebuah seni penyembuhan yang telah melintasi batas samudera dan ribuan tahun peradaban manusia.
Dari “Tanduk” hingga “Cangkir”
Bagi masyarakat dunia, ia punya banyak nama. Di tanah Arab, ia dikenal sebagai Hijamah—sebuah istilah yang merujuk pada pelepasan “darah kotor”. Di dunia Barat, ia disebut Cupping, sementara masyarakat Melayu dan Indonesia lebih akrab menyebutnya Bekam, Kop, atau Canduk.
Namun, substansinya tetap satu: sebuah proses pengeluaran darah yang mengandung racun melalui perlukaan ringan di kulit. Sebagaimana dicatat oleh Sari et al. (2018), darah ini membawa sisa zat kimia dari polusi, makanan, dan metabolisme yang jika dibiarkan, akan terserap kembali oleh tubuh dan menjadi bom waktu bagi kesehatan.
Simfoni Sejarah: Dari Tepian Nil ke Tanah Tiongkok
Jika kita memutar waktu kembali ke 5.500 tahun silam, kita akan menemukan jejak bekam pada dinding-dinding kuil Mesir Kuno. Melalui hieroglif di Kuil Kom Ombo, terungkap bahwa para tabib Firaun telah menggunakan terapi ini untuk meredakan demam, nyeri, hingga gangguan menstruasi. Mesir menjadi titik awal di mana bekam diakui sebagai salah satu prosedur medis tertua di dunia.
Tak jauh berbeda, di belahan dunia Timur, peradaban Tiongkok pun mencatatkan hal serupa. Dalam buku kuno Wu Shi Er Bing Fang yang ditemukan di makam Dinasti Han, bekam disebut sebagai “Jiao Fa” atau teknik tanduk. Sesuai namanya, para praktisi zaman dahulu menggunakan tanduk kerbau berlubang untuk menghisap penyakit dari tubuh, sebelum akhirnya berevolusi menggunakan bambu dan keramik.
Warisan Para Filsuf dan Nabi
Estafet penyembuhan ini kemudian berlanjut ke tanah Yunani. Hippocrates, yang dijuluki Bapak Kedokteran Modern, secara sistematis menggunakan bekam untuk berbagai kondisi medis. Tak lama kemudian, ilmu ini merambah ke jazirah Arab melalui jalur Bizantium. Tokoh besar seperti Ibnu Sina (Avicenna) menjadikan bekam sebagai terapi andalan untuk migrain hingga kasus keracunan.
Dalam tradisi Islam, bekam bukan sekadar pengobatan, melainkan bagian dari wahyu dan sunnah. Rasulullah SAW bahkan menegaskan dalam sabdanya:
“Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam.” (HR. Imam Ahmad).
Catatan sejarah menunjukkan betapa krusialnya posisi bekam dalam Islam, dengan adanya lebih dari 275 hadis yang membahas keutamaan terapi ini. Rasulullah menyarankan waktu-waktu terbaik di pertengahan bulan, seperti tanggal 17, 19, dan 21 Hijriah, saat frekuensi darah dalam tubuh sedang memuncak.
Titik Temu Tradisional dan Sains Modern
Lantas, bagaimana dunia medis modern memandang teknik kuno ini? Di sinilah “keajaiban” itu terjelaskan secara logis.
Secara tradisional, bekam dianggap memperbaiki titik-titik energi yang saling terhubung di bawah fascia otot. Namun, secara medis modern, tindakan bekam pada “motor points” tubuh memicu pelepasan zat-zat penting seperti serotonin, histamin, dan bradykinin.
Menurut peneliti proses vakum ini menyebabkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) yang menurunkan tekanan darah secara stabil serta merelaksasi otot yang kaku. Lebih jauh lagi, tubuh akan melepaskan Corticotrophin Releasing Factor (CRF) yang merangsang sistem imun untuk bekerja lebih aktif.
Keamanan: Batasan di Balik Manfaat
Meski memiliki sejarah gemilang, bekam bukanlah terapi tanpa batasan. Para ahli menekankan pentingnya sterilitas—penggunaan alat sekali pakai dan Alat Pelindung Diri (APD) adalah harga mati.
Terdapat garis tegas mengenai siapa yang boleh dan tidak boleh dibekam:
-
Pantangan Mutlak: Pasien kanker, gagal ginjal, gagal jantung, atau mereka yang menggunakan alat pacu jantung.
-
Pantangan Relatif: Ibu hamil, kondisi menstruasi, atau mereka yang baru saja melakukan donor darah.
Penutup
Bekam adalah bukti bahwa pengetahuan kuno tidak selalu usang dimakan zaman. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kearifan masa lalu dengan logika sains masa kini. Dari ukiran hieroglif hingga jarum steril modern, bekam tetap setia pada satu tujuan: membuang yang buruk untuk memberikan ruang bagi kehidupan yang lebih sehat.
Referensi :
– Hidayat et al. (2022). Terapi Bekam (Hijamah) dalam Perspektif Islam dan Medis.
– Sari, F. R., Galim, M. A., Ekayanti, F., & Subchi, I. (2018). Bekam Sebagai Kedokteran Profetik
Dalam Tinjauan Hadis, Sejarah dan Kedokteran Berbasis Bukti. Depok: RajaGrafindo
Persada









