oleh : Yanuar Catur Pamungkas, S.Pd., M.Ikom
RumpikotaCom – Era media sosial melahirkan kebebasan berbicara bagi siapa saja, tak terkecuali mereka yang bernalar pendek. Ciri utama kelompok ini adalah gemar beropini tanpa landasan berpikir, serta abai terhadap data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekalipun sebagian dari mereka pandai merangkai kata, narasinya tetap saja kosong, ngawur, dan berpotensi membodohi publik.
Salah satu wujud nyata dari kesesatan berpikir ini adalah kecenderungan untuk melakukan oversimplifikasi (menyederhanakan masalah). Mereka membelah realitas isu yang kompleks menjadi dua kutub ekstrem: kubu Hero (pahlawan) melawan kubu Villain (penjahat).
Dikotomi Hero vs Villain ini sangat berbahaya karena mengaburkan substansi sebuah persoalan. Dampak paling nyata dari nalar sempit ini adalah alergi terhadap perbedaan. Siapa pun yang berani melontarkan opini berbeda atau berada di luar kubunya, akan langsung digeneralisasi dengan cap “buzzer”.
Tuduhan “buzzer” seolah menjadi senjata pamungkas untuk mendiskreditkan lawan bicara; menuduh bahwa opini mereka dibeli, tidak independen, dan mengkhianati hati nurani. Padahal, tidak sedikit pihak yang berbeda pendapat justru menyajikan kesimpulan berdasarkan analisis matang yang bersandar pada validitas data dan fakta.
Sebagai contoh konkret: mendukung sebuah kebijakan pemerintah yang memang rasional dan berdampak baik, tidak lantas berarti seseorang sedang “menjilat” penguasa atau menggiring opini bahwa pemerintah pasti selalu benar tanpa celah. Begitu pun sebaliknya, mengkritik tajam satu kebijakan yang keliru bukan berarti otomatis membenci pemerintah secara membabi buta. Sayangnya, di mata netizen bernalar pendek, ruang objektivitas seperti ini hangus. Bagi mereka, Anda dipaksa memilih: menjadi pemuja absolut atau pembenci abadi.
Praktik semacam ini jelas kontraproduktif terhadap upaya menciptakan ruang dialog yang sehat di media sosial. Kebebasan berpendapat dan keberagaman pemikiran yang seharusnya dijunjung tinggi, justru dirusak. Ketika kompetensi berargumen dikalahkan oleh narasi-narasi populis yang dangkal, maka kebenaran esensial dari sebuah diskusi akan selamanya kabur.
Pada akhirnya, mereka yang selalu terjebak dalam nalar pendek Hero vs Villain ini pantas dilabeli sebagai “netizen kebanyakan”. Mereka mungkin berisik dalam bersuara, namun sejatinya kosong dalam mencerna makna.











