Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
FiksiHiburanInspirasiPendidikan

Paket Terakhir Pak Karsono

3
×

Paket Terakhir Pak Karsono

Share this article
Paket Terakhir Pak Karsono
Paket Terakhir Pak Karsono
Example 468x60

RumpiKota.com – Pak Karsono tidak pernah percaya pada museum. Lebih tepatnya, ialah ia tidak pernah percaya pada orang-orang yang mengelolanya.

Dua puluh tiga tahun lalu, ketika rambutnya masih hitam separuh dan punggungnya belum mengenal pegal yang menetap, ia membawa sebuah keris ke gedung besar di Jalan Merdeka. Bukan keris sembarangan, gagang suasa berbentuk kepala kuda dengan mata dari tanduk kerbau tua, warisan tiga generasi pengrajin logam dari Kotagede yang semuanya bernama Karsono. Ia letakkan benda itu di atas meja kepala kurator dengan tangan yang gemetar bukan karena takut, melainkan karena terlalu lama menahan diri untuk tidak mengatakan betapa berharganya benda itu.

Kurator itu membaca surat pengantar Pak Karsono. Memutar keris dua kali. Lalu berkata bahwa koleksi mereka sudah penuh untuk kategori logam Jawa.

Pak Karsono pulang dengan keris di tangan dan rasa malu yang tidak ia ceritakan kepada siapapun, bahkan kepada istrinya.

Bertahun-tahun kemudian, toko kecilnya di gang sempit Kotagede tetap buka setiap pagi pukul delapan. Bukan karena ia masih percaya ada yang akan membeli, pariwisata bergeser ke tempat-tempat yang lebih mudah difoto, dan orang muda lebih suka membeli suvenir cetak dari toko daring yang tidak berbau serbuk logam dan keringat. Toko itu buka karena tangannya tidak tahu cara lain mengisi hari. Karena palu kecil dan kikir halus di tangannya terasa seperti bahasa satu-satunya yang ia kuasai dengan sempurna.

Istrinya meninggal tiga tahun lalu. Anak-anaknya di Surabaya dan Bekasi, sibuk dengan hidup mereka yang Pak Karsono tidak selalu mengerti tetapi tidak pernah ia pertanyakan dengan keras. Setiap Lebaran mereka pulang. Setiap selesai Lebaran mereka pergi, dan rumah kembali menjadi tempat di mana suara yang paling keras adalah bunyi palu di atas landasan.

Pada usia tujuh puluh satu, tangannya mulai berkhianat. Jari-jari yang dulu bisa mengerjakan ukiran selebar kuku dengan presisi mulai sering salah arah. Bukan karena kurang latihan, justru karena terlalu banyak latihan selama lima dekade, dan tendon-tendon itu sudah menyerah pada kelelahan yang tak bisa dipaksa lebih jauh lagi. Dokter di puskesmas bilang itu arthritis. Pak Karsono bilang tidak ada nama untuk sesuatu yang sudah menjadi bagian dari tubuh.

Tiga bulan sebelum ia memutuskan menutup toko, Pak Karsono mengerjakan satu benda terakhir.

Bukan keris. Keris sudah terlalu berat untuk jari-jarinya. Ia membuat sebuah kalung, liontin berbentuk daun sirih dari perak tua yang ia simpan sejak dua puluh tahun lalu, diukir dengan motif kawung yang ia pelajari pertama kali dari ayahnya di usia sembilan tahun. Setiap goresan kikir ia lakukan pagi hari ketika jari-jari masih sedikit lebih patuh dari sore. Tiga bulan penuh. Sering ia harus berhenti di tengah karena tangan tidak bisa dipercaya, dan ia duduk diam menatap benda setengah jadi itu sambil minum teh yang sudah dingin.

Ketika selesai, ia tahu itu karya terbaik yang pernah ia buat. Bukan karena paling rumit, justru sebaliknya: motif kawung yang sederhana itu dikerjakan dengan tangan yang tidak sempurna lagi, dan ketidaksempurnaan itu entah bagaimana membuat setiap goresan terasa seperti keputusan sadar, bukan kemahiran otomatis. Seperti seseorang yang bicara pelan karena tahu kata-katanya sedikit, dan justru karena itu setiap kata jatuh tepat.

Ia membungkus kalung itu dengan kain mori putih, lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu jati kecil yang ia buat sendiri. Di tutup kotak ia ukir tiga huruf, K.T.K., Karsono Tri Karsono, nama yang diulang karena memang begitulah tradisi keluarganya, mengulang nama sampai ia benar-benar menjadi identitas, dan bukan sekadar panggilan.

Lalu ia pergi ke kantor JNE di dekat pasar.

Bukan karena ia tidak tahu cara lain mengirim barang. Ia tahu. Tapi sudah tiga kali dalam setahun terakhir, ketika anak-anaknya mengirimkan oleh-oleh dari kota, paketnya selalu tiba utuh, tidak penyok, tidak basah, tidak terbuka. Sekali ia tanya ke tetangga yang sering kirim barang antarkota untuk usaha kerupuknya, tetangga itu menyebut nama itu dengan nada yang sama seperti orang menyebut nama dokter yang mereka percaya: JNE, Pak, sudah bertahun-tahun saya pakai, belum pernah kecewa.

Di depan loket, perempuan muda berseragam itu bertanya: barangnya apa, Pak? Rapuh?

Pak Karsono berpikir sebentar. Rapuh adalah kata yang benar secara teknis tetapi terasa tidak cukup untuk menggambarkan kotak kayu itu. Yang di dalamnya bukan hanya logam. Yang di dalamnya adalah tiga bulan pagi hari ketika tangan masih bisa dipercaya. Lima puluh tahun belajar menjadi pengrajin dari ayah yang tidak pernah mau dipuji, hanya mau dilihat cara kerjanya. Dua puluh tiga tahun menyimpan rasa malu dari gedung besar di Jalan Merdeka.

“Sangat rapuh,” kata Pak Karsono.

Tujuan paket itu adalah alamat yang sama, gedung museum di Jalan Merdeka. Kepala kurator baru, orang berbeda, nama berbeda. Seorang mahasiswa seni yang pernah magang di tokonya enam tahun lalu dan kini bekerja di sana mengirim pesan dua minggu lalu: Pak Karsono, kami sedang buka program koleksi pengrajin tradisional yang masih aktif. Karya Bapak layak masuk. Apakah Bapak bersedia?

Pak Karsono tidak menjawab langsung. Ia membaca pesan itu tiga kali, menaruh telepon, lalu meneruskan mengerjakan kawung yang belum selesai. Baru dua hari kemudian ia balas dengan satu kalimat: Saya kirimkan satu benda. Terima atau tidak, itu urusan kalian.

Di depan loket JNE, setelah mengisi formulir dengan tulisan tangan yang tidak serapi dulu, ia menerima resi dan memasukkannya ke saku baju. Perempuan muda itu berkata paket akan tiba dalam dua hari kerja.

Dua hari kerja. Pak Karsono menghitung dalam kepala: dua hari untuk perjalanan yang dua puluh tiga tahun tidak bisa ia lakukan sendiri.

Ia pulang ke toko yang besok pagi akan ia tutup untuk terakhir kali. Duduk di bangku kayu panjang yang sudah hitam karena tangan-tangan yang menopang tubuhnya selama bertahun-tahun. Di depannya meja kerja yang permukaannya penuh bekas kikir dan solder, arsip dari tubuh yang sudah bekerja terlalu lama untuk berhenti tiba-tiba, tetapi kini harus belajar diam.

Tangan kanannya ia letakkan di atas meja. Jari-jari yang bengkok sedikit di ruas kedua, telapak yang keras di bagian yang salah, kuku yang tidak pernah bersih sempurna dari serbuk logam meski sudah digosok. Tangan yang pernah membuat ratusan benda, sebagian dijual, sebagian masih di laci, sebagian sudah di tangan orang yang tidak ingat dari mana datangnya.

Dan satu benda, hari ini, sedang dalam perjalanan.

Di suatu tempat antara Kotagede dan Jalan Merdeka, dalam sebuah paket berlabel sangat rapuh, kalung perak dengan motif kawung itu bergerak melalui tangan-tangan yang tidak ia kenal, melalui sistem yang lebih besar dari satu orang, menuju tempat yang dua puluh tiga tahun lalu menutup pintunya.

Pak Karsono tidak tahu apakah museum itu akan menerimanya. Mungkin ya, mungkin tidak, kurator berganti, kebijakan berganti, tetapi institusi punya cara tersendiri untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Yang ia tahu adalah bahwa benda itu sekarang bergerak, dan selama bergerak masih ada kemungkinan tiba.

Itu sudah cukup.

Penulis: Karnadi M.D

#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *