Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Komunitas

Wordholic Class Ajak Perempuan Surabaya Belajar Branding

2
×

Wordholic Class Ajak Perempuan Surabaya Belajar Branding

Share this article
creative workshop belajar branding perempuan
Example 468x60

creative workshop belajar branding perempuan

 

Di tengah maraknya AI yang membuat para kreator, freelancer, hingga pekerja kreatif lainnya takut kehilangan job, Wordholic Class menyelenggarakan kelas kecil untuk perempuan di Surabaya pada 13 Juni 2026 lalu di Sage House. Dalam kelas ini, para peserta belajar branding dan proses menemukan diri dari para pembicaranya.

Wordholic Class adalah komunitas yang didirikan sejak tahun 2019 dan telah memiliki 700 lebih peserta. Adapun kelas-kelas yang rutin diselenggarakan berkaitan dengan literasi dan kesehatan mental. Para penulis buku, content writer, hingga copywriter yang berhadapan dengan deadline ketat dan beragam klien tentu juga butuh cara untuk menjaga mental tetap sehat.

Melihat tren AI yang juga membuat banyak pekerja kreatif merasa stres, maka Wordholic Class mengajak dua pembicara, Reffi Dhinar (Founder Wordholic Class) dan Heni Prasetyorini (Founder Heztek Coding) untuk berbagi pengalaman mereka.

 

Mengapa Perempuan?

Menurut data dari Goodstats pada 2024, sekitar 65% UMKM dijalankan oleh perempuan. Untuk bidang bisnisnya pun sangat beragam.

 

Sebagian besar peserta yang mengikuti kelas-kelas yang diselenggarakan Wordholic Class pun adalah para perempuan. Kini, dengan kemudahan teknologi, ibu rumah tangga sekalipun bisa membangun bisnis sampingan dari rumah.

Bisnis jasa, fesyen, F&B, kerajinan tangan, dan kecantikan yang berada di barisan teratas UMKM yang dikelola perempuan tentunya memerlukan visibilitas di medsos. Branding yang kuat memang tidak serta-merta menjadikan bisnis tersebut laris di pasaran, tetapi kekuatan branding dapat mendekatkan bisnis dengan target marketnya.

 

Belajar Branding dari Dua Pembicara Perempuan

Dua pembicara yang hadir mengisi workshop mini ini memiliki latar belakang kreatif yang sama yaitu blogger. Dari diskusi bersama, Heni dan Reffi membagikan perjalanan kreatif mereka hingga bisa membangun branding dengan ciri khas masing-masing.

 

Perjalanan membangun start-up oleh Heni Prasetyorini

Di sesi pertama, Heni menceritakan titik awal ia berusaha berdaya kembali setelah fokus menjadi IRT sejak usia muda. Banyak pengorbanan yang ia lakukan sebelum akhirnya ingin melanjutkan hidup di luar aktivitas sebagai seorang istri dan ibu.

 

Founder Heztek Coding yang dulunya nyaris menjadi peneliti LIPI ini suka membagikan pengalamannya lewat blog. Bisnis online Jilbab Orin yang sempat diliput media dan mulai membesarkan namanya ternyata tidak menjadi passion sesungguhnya.

Yang membuat Heni bisa berkembang adalah:

  • Rasa ingin tahu
  • Persistensi
  • Kemauan untuk belajar hal baru
  • Keberanian

Setelah menjadi blogger yang cukup sukses dan memenangkan kompetisi bergengsi, Heni melirik dunia koding. Ia belajar banyak di dunia baru tersebut hingga bertemu komunitas Coding Mum.

“Saya belajar S2 dengan pikiran ingin menjadi dosen. Ternyata, meskipun punya ijazah S2, belasan tahun hanya menjadi IRT tanpa pengalaman bekerja secara nyata membuat saya tidak laku,” tuturnya.

Menolak untuk menyerah, Heni terus menulis di blog dan mengikuti beragam tantangan yang merangsang keingintahuannya. Perjalanannya tak mudah, tetapi satu per satu kesempatan terbuka hingga ia mendirikan Heztek Coding.

 

Strategi branding tanpa viral dari Reffi Dhinar

“Kalau lihat akun Instagram personal saya, jumlahnya bahkan tidak sampai 3000 followers, tapi saya dipercaya banyak komunitas, brand, dan instansi untuk menjadi penulis atau mentor kelas menulis. Branding itu memang tidak harus viral,” kata Reffi di sesi kedua workshop ‘She Builds Her Name’.

 

 

Metode yang dibagikan Reffi menuntut peserta untuk mengenali diri lebih dalam dan menentukan pondasi sebelum membuat konten. Personal branding itu bukan hanya soal riset tren, tetapi menceritakan perjalanan dan proses belajar seseorang ketika sedang membangun sesuatu.

Bisnis yang dibangun tentu punya banyak cerita dan pemilik atau pengelola bisnis perlu mendokumentasikan behind-the-scene, inspirasi, hingga kegagalan yang pernah dialami.

Viral itu bukan jadi ukuran kesuksesan branding. Bagaimana brand diingat dan melekat di benak target audiens seharusnya menjadi tujuan utama.

Belajar branding tidak hanya dikhususkan bagi seseorang yang ingin menjadi kreator. Saat ini, jika ingin bisnis dan karya kita dikenal, maka perlu membagikannya di media sosial agar lebih mudah ditemukan. Workshop ‘She Builds Her Name’ berjalan dengan hangat dan akan ada rencana batch 2 dalam sesi daring.

Example 300250
Topics:
Writer: Reffi Dhinar
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *