Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
InspirasiPendidikan

Dressponsible Vol. 2 Ajak Anak Muda Lebih Bijak Belanja Fashion

5
×

Dressponsible Vol. 2 Ajak Anak Muda Lebih Bijak Belanja Fashion

Share this article
Example 468x60

RumpiKotaCom, Jakarta— Isu dampak industri fashion terhadap lingkungan kini semakin menjadi perhatian global. Menjawab tantangan tersebut, kampanye Dressponsible Vol. 2 kembali digelar oleh mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) dengan mengusung semangat peningkatan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya sustainable fashion.

Dosen pembimbing kegiatan, Melvin Bonardo Simanjuntak, M.I.Kom, menegaskan bahwa kampanye ini lahir dari kebebasan akademik yang diberikan kepada mahasiswa dalam menentukan isu yang relevan dan berdampak positif bagi masyarakat.

“Mahasiswa diberikan ruang untuk mengangkat isu yang mereka minati.

Ketika penelitian didasarkan pada passion, hasilnya akan lebih maksimal. Dalam konteks ini, mereka mengangkat isu lingkungan di industri fashion dengan pendekatan komunikasi pemasaran,” ujar Melvin.

Menurutnya, ketiga mahasiswa penggagas kampanye memiliki latar belakang kuat di dunia fashion, termasuk aktif dalam kegiatan modeling selama masa kuliah. Hal tersebut menjadi landasan dalam merancang kampanye yang tidak hanya kreatif, tetapi juga kontekstual dengan realitas industri.

(foto: elin)

Melvin menjelaskan, proses pengembangan kampanye dimulai sejak penyusunan proposal pada September hingga November 2025. Setelah melalui sidang akademik, mahasiswa mulai mengeksekusi program dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak sejak Desember 2025 hingga April 2026.

“Prosesnya tidak singkat. Mereka harus berkomunikasi dengan berbagai pihak eksternal, termasuk instansi pemerintah yang memiliki agenda padat. Namun kami bersyukur mendapat dukungan penuh, termasuk dari pihak Museum Bank Indonesia yang sangat terbuka terhadap kegiatan ini,” jelasnya.

Dressponsible Vol. 2 sendiri diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sinergi ini menjadi bukti nyata keterlibatan pemerintah dalam mendukung gerakan edukatif yang digagas generasi muda.

Kampanye ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) dan SDG 13 (Climate Action), melalui pendekatan edukasi kreatif serta pengangkatan isu fast fashion yang berdampak pada lingkungan.

Lebih lanjut, Melvin menekankan bahwa kampanye ini tidak bertujuan melarang masyarakat untuk membeli pakaian, melainkan mendorong pola konsumsi yang lebih bijak.

“Kami tidak melarang orang berbelanja, tetapi kami mengajak untuk belanja secara cermat dan bijak. Pilih pakaian berkualitas yang tahan lama, bukan sekadar mengikuti tren sesaat yang berujung pada limbah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran desainer lokal dalam menciptakan produk fashion yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, produksi dalam skala terbatas dengan kualitas tinggi dapat menjadi alternatif untuk menekan dampak negatif industri fashion massal.

Dalam implementasinya, kampanye ini dilakukan melalui tiga tahap, yakni pre-event dengan produksi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) sejak 2 Maret 2026, aktivasi media sosial sejak 17 Maret 2026, hingga puncak acara yang digelar pada 18 April 2026 di Museum Bank Indonesia.

Melvin mengungkapkan bahwa dampak kampanye sudah mulai terlihat, khususnya di lingkungan kampus LSPR. Salah satu program yang dijalankan adalah “bank baju”, yang mendorong mahasiswa untuk mendonasikan pakaian layak pakai agar dapat dimanfaatkan kembali.

“Kesadaran mahasiswa cukup tinggi. Mereka mulai terbiasa menggunakan kembali pakaian dengan konsep mix and match, bukan lagi membeli untuk sekali pakai. Ini perubahan perilaku yang sangat positif,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan terbesar masih berada di tingkat masyarakat luas. Oleh karena itu, kegiatan seperti Dressponsible Vol. 2 diharapkan dapat terus memperluas jangkauan edukasi.

“Target kami memang tidak hanya angka, tetapi bagaimana audiens yang hadir dapat membawa pulang pemahaman dan perlahan mengubah perilaku mereka. Dari 80 hingga 100 peserta yang hadir, kami berharap efeknya bisa berlipat melalui penyebaran kesadaran,” pungkas Melvin.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *