DPR Dorong Lokalisasi Industri, Investasi Asing Jadi Jalan Penguatan SDM Lokal

CIKARANG, BEKASI

RumpiKota.Com – Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke pabrik QJ Motor Manufacture Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, tidak hanya menyoroti pentingnya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), tetapi juga membuka perspektif lebih luas: bagaimana investasi asing dapat menjadi instrumen pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat industri nasional, lokalisasi produksi dinilai menjadi kunci. Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menegaskan bahwa model industri yang masih didominasi perakitan dengan komponen impor belum mampu memberikan dampak maksimal terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Kalau semua kebutuhan sudah bisa diproduksi di dalam negeri, maka tenaga kerja yang diserap akan semakin banyak,” ujarnya saat kunjungan kerja spesifik, Kamis (2/4/2026).

Saat ini, tingkat TKDN QJ Motor Manufacture Indonesia masih berada di kisaran 20 persen. Angka tersebut mencerminkan bahwa proses produksi masih sangat bergantung pada komponen impor. DPR pun mendorong agar angka ini terus meningkat hingga mencapai 40 hingga 60 persen, bahkan sepenuhnya lokal dalam jangka panjang.

Dari Perakitan ke Produksi Penuh

Transformasi dari sekadar perakitan menuju produksi penuh menjadi salah satu fokus utama. Pihak perusahaan mengungkapkan bahwa dalam tiga tahun ke depan, mereka menargetkan pembangunan fasilitas manufaktur lengkap, termasuk proses stamping, welding, painting, hingga produksi komponen secara mandiri.

Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap struktur tenaga kerja. Semakin dalam proses produksi dilakukan di dalam negeri, semakin besar kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih beragam.

Factory Division Head QJ Motor Manufacture Indonesia, Bintang Dewan Toro, menyebut bahwa perusahaan tengah bergerak ke arah tersebut.

“Kita tidak hanya melakukan perakitan, tapi ke depan akan menjadi full manufacture dengan berbagai proses produksi di dalam pabrik,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan juga menargetkan Indonesia sebagai pusat manufaktur, yang berpotensi membuka lebih banyak lapangan kerja, khususnya bagi masyarakat lokal di kawasan industri seperti Cikarang.

Lebih dari Sekadar Serapan Tenaga Kerja

Namun, dampak investasi tidak berhenti pada jumlah tenaga kerja. Dimensi yang lebih dalam adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Di pabrik ini, lebih dari 95 persen tenaga kerja merupakan pekerja lokal. Mereka tidak hanya direkrut, tetapi juga dilatih melalui berbagai program pelatihan internal.

Afrizan, salah satu pegawai di divisi produksi, mengungkapkan bahwa setiap pekerja mendapatkan pelatihan teknis terkait produk dan proses perakitan.

“Kita diberikan training terkait produk dan cara merakit, serta pelatihan secara berkala,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sebagian pekerja juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan di luar negeri, termasuk di China, sebagai bagian dari transfer teknologi.

Pengetahuan yang diperoleh kemudian disebarkan kembali kepada pekerja lain di dalam negeri, menciptakan siklus pembelajaran yang berkelanjutan.

Transfer Teknologi dan Potensi R&D Lokal

Di sinilah letak nilai strategis investasi: bukan hanya memindahkan modal, tetapi juga pengetahuan.

Model pelatihan dan transfer teknologi ini membuka peluang bagi pekerja lokal untuk tidak hanya menjadi operator, tetapi juga berkembang ke tahap yang lebih tinggi, termasuk dalam proses inovasi dan pengembangan produk.

Meski saat ini peran tersebut masih terbatas, arah pengembangan industri menuju produksi penuh membuka ruang bagi keterlibatan tenaga kerja lokal dalam riset dan pengembangan (research and development).

DPR pun menekankan pentingnya kolaborasi antara industri dan pemerintah agar proses ini berjalan optimal.

“Harus ada kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah dalam mengembangkan industri ke depan,” kata Saleh.

Energi Baru dan Arah Industri Masa Depan

Selain lokalisasi dan SDM, isu lain yang turut menjadi sorotan adalah pengembangan energi alternatif, khususnya kendaraan listrik.

Dalam konteks global yang tidak menentu, termasuk dinamika geopolitik dan energi, transisi ke energi baru terbarukan menjadi kebutuhan mendesak.

QJ Motor sendiri telah mengembangkan produk motor listrik dan menjalin kerja sama dengan sektor transportasi, termasuk layanan berbasis aplikasi.

Hal ini menunjukkan bahwa arah industri tidak hanya bergerak ke lokalisasi produksi, tetapi juga inovasi teknologi yang lebih luas.

Antara Peluang dan Tantangan

Meski demikian, terdapat pertanyaan mendasar: sejauh mana investasi asing benar-benar mampu mendorong kemandirian industri nasional?

Selama proses produksi masih bergantung pada impor dan penguasaan teknologi belum sepenuhnya berada di tangan tenaga kerja lokal, maka transformasi industri belum sepenuhnya tuntas.

Namun, langkah menuju lokalisasi dan peningkatan kapasitas SDM yang mulai terlihat saat ini menjadi fondasi penting.

Model investasi yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pengembangan manusia, dapat menjadi kunci dalam membangun industri nasional yang berdaya saing.

Ke depan, sinergi antara kebijakan pemerintah, komitmen industri, dan kesiapan tenaga kerja lokal akan menentukan arah perkembangan sektor otomotif nasional.

Jika lokalisasi produksi berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, maka investasi tidak hanya menjadi alat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sarana pemberdayaan.

Dari Cikarang, Bekasi, transformasi itu mulai terlihat — dari lini perakitan, menuju industri yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *