Rumpikotacom, Jakarta– Sebanyak 88,7 persen responden menyatakan setuju dan mendukung keterlibatan Polri dan TNI dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Direktur Eksekutif Timur Barat Research Center (TBRC), Zaenal Abidin, M.I.Kom, mengatakan hasil survei tersebut mencerminkan dukungan kuat masyarakat terhadap keikutsertaan aparat dalam program prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Sebanyak 88,7 persen responden setuju dan mendukung keterlibatan Polri dan TNI dalam membangun SPPG untuk mendukung program MBG,” kata Zaenal Abidin kepada wartawan, Sabtu.
Selain itu, sebanyak 90,1 persen responden menilai mutu dan kualitas makanan yang disediakan melalui SPPG Polri dan TNI sangat baik, 5,1 persen menilai biasa saja, dan 4,8 persen tidak menjawab.
Survei TBRC tentang setahun pelaksanaan Program MBG digelar pada 11–21 Februari 2026 di 458 kabupaten/kota di Indonesia dengan melibatkan 1.802 responden yang dipilih secara proporsional. Responden merupakan orang tua siswa penerima manfaat MBG.
Zaenal menjelaskan, pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan teknik wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error ±2,31 persen. Kontrol kualitas dilakukan melalui spot check terhadap 20 persen sampel.
Hasil survei menunjukkan 79,4 persen responden sangat mengetahui adanya program MBG dan 12,2 persen mengetahui program tersebut. Sementara 3,1 persen menyatakan tidak tahu dan 5,3 persen tidak menjawab.
Dari sisi kepuasan, 82,2 persen responden menyatakan sangat puas terhadap pelaksanaan MBG untuk anak-anak mereka, 12,6 persen tidak puas, dan 5,2 persen tidak menjawab.
Namun demikian, sebanyak 74,6 persen responden mengaku tidak mengetahui atau tidak melihat langsung menu dan jenis makanan yang diberikan dalam program MBG. Sebanyak 16,3 persen menyatakan tahu dan melihat, 3,7 persen kurang tahu, dan 5,4 persen tidak menjawab.
Terkait dampak ekonomi, 84,3 persen responden menilai program MBG berpengaruh positif terhadap ekonomi rumah tangga. Sebanyak 11,3 persen menyatakan biasa saja dan 4,4 persen tidak menjawab.
Sebanyak 64,3 persen responden menyebut pengeluaran rumah tangga menurun 10–20 persen per bulan akibat adanya MBG, 31,4 persen menyatakan penurunan 5–10 persen, dan 4,3 persen tidak menjawab.
Sementara itu, 60,3 persen responden menyatakan pendapatan rumah tangga meningkat dan membaik dengan adanya MBG, 33,1 persen menyatakan stabil, dan 6,6 persen tidak menjawab.
Dalam aspek mutu makanan, 60,2 persen responden menilai kualitas dan mutu makanan perlu diperbaiki dan ditingkatkan, 30,7 persen menilai cukup bermutu, dan 9,1 persen tidak menjawab. Sebanyak 85,7 persen responden juga berpendapat guru dan orang tua perlu dilibatkan dalam pemilihan serta penyediaan makanan MBG.
Secara umum, 89,7 persen responden mendukung program MBG untuk dilanjutkan dan tidak dihentikan. Sebanyak 90,4 persen responden bahkan menyatakan program tersebut perlu dimasukkan dalam kebijakan pendidikan dan diatur melalui perundang-undangan.
Zaenal menilai MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan strategi pembangunan manusia dan instrumen pertumbuhan ekonomi nasional.
“Gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, serta memperkuat perkembangan kognitif. Dalam jangka panjang, hal ini bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja,” ujarnya.




