Rumpikota.com Indramayu, Jalur Pantura yang sangat legendaris serta strategis memang menyisakan banyak cerita, salah satunya dengan istilah “Jalur Prostitusi” dimana pemandangan warung remang-remang seperti sudah sangat lumrah dilintasi di Jalur Pantura. Tak terkecuali wilayah Kabupaten Indramayu yang cukup panjang dilalui Jalur Pantura, dari tahun ke tahun generasi ke generasi sepertinya masih bertahan menyesuaikan perkembangan zaman.
Tidak seperti bangunan Rumah Makan Pantura yang banyak berguguran pasca beroperasinya Jalan Tol Cipali tahun 2016 silam, bangunan-bangunan semi permanen yang disebut warung remang-remang justru semakin eksis di Jalur Pantura. Menurut keterangan Susi saat dikonfirmasi kontributor Rumpikota.com menuturkan “eksistensi prostitusi di Jalur Pantura sudah sistemik dan mengakar sehingga sangat sulit dihilangkan, salah satu penyebabnya yaitu masih tingginya minat para hidung belang terhadap wanita penjaja seks komersial” lebih lanjut salah satu pemilik warung tersebut menjelaskan rentang usia para hidung belang berusia muda tampak lebih banyak.
Rasa penasaran kaum muda terhadap sensani warung remang-remang biasanya dipicu pergaulan bebas. Dimana norma-norma ketimuran di masyarakat sudah semakin longgar, dimana hamil diluar nikah seperti hal yang biasa saja.











