RumpiKota,com – Bangkalan – kelompok III KKN Sisdamas 2026 mengunjungi sesepuh desa Klampis Barat untuk mengetahui tentang bhujuk yang sangat dikenal dengan bhujuk prambuyan yang terletak di atas permukaan laut (29/07/2026).
Menurut sesepuh desa Klampis Barat Sayyid Husain bin Umar bin Ahmad yang dikenal dengan Bhujuk Prambuyan merupakan santri yang berasal dari Kalimantan yang diperintahkan oleh gurunya untuk melaksanakan tirakat bersama 40 santri lainnya dengan menaiki kapal, namun dipertengahan perjalanan, kapal yang ditumpangnya tenggelam dan beliau berenang hingga terdampar di daerah Klampis Barat bersama seorang perempuan yang tidak diketahui statusnya.
Menurut penjelasan sesepuh pak Subaden, Sayyid Husain meninggal setelah terdampar di pesisir, namun ada beberapa yang berpendapat bahwa beliau masih sempat hidup dan berbicara dengan seorang yang bisu. Setelah kematiannya, orang yang bertemu dengan beliau, memberitahu warga dengan ada kewaftannya seseorang di pesisir laut Klampis dan beliau mengatakan tanpa jelas dan hingga kini dipahami dengan Bhujuk Prambuyan, sedangkan perempuan yang tidak dikenal identitasnya tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Pada masa Syaikhona Muhammad Kholil, Bujhuk Prambuyan kembali menjadi perbincangan masyarakat, sebab beliau memanggil salah satu ulama Banten yang lumpuh untuk memberitahu “tidak perlu jauh-jauh untuk takziah kebeberapa sunan, di Klampis Barat ada gurunya banyak orang” ungkap Syaikhona Kholil kepada salah satu Ulama Banten. Namun, ulama Banten tidak langsung memberitahu warga Klampis dalam waktu sehari semalam, sehingga beliau mendapat teguran dari Syaikhona Kholil dan langsung berangkat dan memberitahu kepada warga Klampis untuk di haulkan pada saat 14 Muharrom, hingga kini menjadi rutinan kegiatan tahunan desa Klampis Barat, setelah memberitahu pada warga beliau sembuh dari lumpuhnya dan melanjutkan perjalanannya ke beberapa bhujuk yang ada di Madura.
