Mendorong Pengukuran Pertumbuhan yang Lebih Luas Melampaui PDB

Foto Istimewa

RumpiKota.Com — Dalam konteks global yang semakin kompleks,
pengembangan ekonomi tidak lagi dapat dipahami hanya melalui output ekonomi
semata; meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) tetap merupakan alat yang penting,
indikator ini belum sepenuhnya menangkap kesejahteraan sosial, keberlanjutan
lingkungan, kapasitas institusional, maupun ketahanan.

Hal tersebut merupakan beberapa poin yang disampaikan oleh Nadia Habibie, anggota
Dewan Direktur The Habibie Center, saat berbicara dalam Indonesia Economic Summit
(IES) 2026 yang diselenggarakan oleh Indonesian Business Council (IBC) di Hotel
Shangri-La Jakarta pada (04/02/2026).

Nadia menyampaikan presentasi dalam sesi pleno bertajuk “Beyond GDP: Redefining
Growth and Prosperity”, dengan memberikan pandangan mengenai bagaimana
Indonesia dapat mengadopsi ukuran pembangunan nasional yang lebih luas dan
holistik, melampaui indikator ekonomi tradisional.

“Pembangunan ekonomi tidak hanya merupakan sesuatu yang kita ukur di tingkat
nasional, tetapi juga sesuatu yang dialami masyarakat setiap hari melalui keamanan
kerja, akses terhadap layanan kesehatan, kualitas lingkungan, serta keyakinan bahwa
hari esok akan lebih baik daripada hari ini,” ujar Nadia.

Menyoroti konteks Indonesia saat ini, Nadia menekankan bahwa Indonesia berada pada
titik krusial, yang ditandai dengan menyempitnya bonus demografi serta meningkatnya
dinamika geopolitik. Dinamika ini, menurutnya, menuntut penggunaan instrumen
pengukuran yang lebih komprehensif agar kebijakan publik tidak hanya mendorong
pertumbuhan, tetapi juga menjamin keadilan, keberlanjutan, dan ketahanan jangka
panjang. Ia menegaskan bahwa prioritas pembangunan nasional Indonesia,
sebagaimana tercermin dalam RPJMN 2025–2029 dan agenda Asta Cita, telahmengarah pada visi kesejahteraan yang multidimensi dan tidak dapat sepenuhnya
direpresentasikan oleh PDB semata.

“PDB tetap merupakan ukuran yang penting, namun indikator tersebut dirancang untuk
konteks yang berbeda. Saat ini, pertumbuhan ekonomi semata tidak lagi cukup—yang
terpenting adalah kualitas, ketahanan, dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut, serta
sejauh mana hal itu benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan nyata dalam
kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Mengacu pada praktik internasional, Nadia membagikan contoh negara-negara seperti
Meksiko, Malaysia, dan Thailand yang telah mengembangkan kerangka pembangunan
holistik dengan memasukkan indikator lingkungan, sosial, dan kesejahteraan ke dalam
perencanaan nasional. Pendekatan tersebut, menurutnya, dapat membantu pemerintah
merumuskan kebijakan secara lebih menyeluruh dan pada akhirnya berdampak nyata
pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Ini bukan tentang menggantikan PDB, melainkan melengkapinya, agar sistem
pengukuran kita mencerminkan secara utuh ambisi agenda pembangunan Indonesia
serta membuat kemajuan pembangunan lebih terlihat dan bermakna bagi masyarakat
di seluruh Indonesia,” tambah Nadia.

Nadia menegaskan kembali komitmen The Habibie Center sebagai lembaga think tank
independen untuk terus menyediakan gagasan berbasis bukti serta mendorong dialog
yang inklusif guna mendukung tata kelola demokrasi dan pembangunan berkelanjutan
di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *