Scroll untuk baca artikel
InternasionalOpini

TIMUR TENGAH MEMASUKI BABAK BARU: MENGAPA ARAB SAUDI KINI BERANI MENANTANG IRAN?

blank
2
×

TIMUR TENGAH MEMASUKI BABAK BARU: MENGAPA ARAB SAUDI KINI BERANI MENANTANG IRAN?

Share this article
blank

Perubahan sikap geopolitik Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir menarik untuk dicermati. Riyadh kini tampak jauh lebih berani ikut terlibat dalam operasi militer terhadap kelompok-kelompok milisi pro Iran di Irak bersama Amerika Serikat. Padahal, secara historis, Irak merupakan salah satu wilayah yang paling sensitif karena selama lebih dari dua dekade berada dalam pengaruh strategis Iran melalui berbagai kelompok bersenjata dan jaringan politiknya.

 

Perubahan ini memunculkan pertanyaan yang menarik. Apa yang membuat Arab Saudi berani mengambil risiko sebesar itu? Selama ini, ancaman rudal balistik, drone, dan jaringan proksi Iran justru menjadi faktor utama yang membuat negara-negara Teluk sangat berhati-hati, atau bahkan dapat dikatakan enggan berkonfrontasi secara langsung dengan Iran.

 

Salah satu hipotesis yang layak dipertimbangkan adalah kemungkinan telah terjadi perubahan dalam keseimbangan kekuatan militer Iran. Boleh jadi kemampuan Iran untuk melakukan perang konvensional, khususnya proyeksi kekuatan darat dan laut, telah mengalami pelemahan yang signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Akibatnya, deterrent effect Iran kini lebih banyak bertumpu pada rudal balistik, drone, serta jaringan milisi proksinya daripada kemampuan perang konvensional secara langsung.

 

Menariknya lagi, eskalasi juga mulai merambah kawasan lain. Serangan drone terhadap fasilitas kapal gas di Pelabuhan Dimyath, Mesir, menunjukkan bahwa konflik kini mulai menyentuh jalur energi di Mediterania, bukan lagi terbatas pada Teluk Persia dan Laut Merah.

 

Jika kemudian Mesir benar-benar meningkatkan aktivitas militernya di Libya timur, hal itu kemungkinan lebih berkaitan dengan kepentingan keamanan nasional Mesir, stabilitas perbatasan barat, dan pengamanan jalur energi daripada semata-mata sebagai konfrontasi langsung dengan Iran. Karena itu, perkembangan ini perlu terus diamati sebelum disimpulkan sebagai terbentuknya front baru melawan Teheran.

 

Ke depan, situasi Timur Tengah justru akan semakin sulit diprediksi. Peta aliansi dan permusuhan semakin cair sehingga analisis yang terlalu hitam putih justru berpotensi menyesatkan. Dalam konteks ini, kita tidak boleh berpikir secara dangkal atau sekadar terjebak pada logika “siapa melawan siapa”. Setiap aktor memiliki kepentingan strategisnya sendiri.

 

Bagi saya, hanya posisi Israel yang relatif tidak berubah, yaitu sebagai kekuatan pebjajahan kolonialistik yang hingga kini masih mempertahankan pendudukan atas wilayah Palestina. Adapun Iran dan negara-negara Arab sama-sama memiliki persoalan besar yang patut dikritisi.

 

Iran, selama kurun waktu sekitar 2010 hingga 2025, secara nyata memperluas pengaruh geopolitiknya melalui jaringan milisi dan kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengannya di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Sulit dipungkiri bahwa ekspansi tersebut juga membawa dimensi politik sektarian Syiah yang memperdalam fragmentasi dunia Islam dan memperuncing konflik internal di kawasan.

 

Di sisi lain, dunia Arab juga tidak dapat dikatakan berhasil membangun agenda kolektif yang konsisten dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Perpecahan kepentingan antarnegara Arab, normalisasi hubungan sebagian negara dengan Israel, serta kedekatan strategis banyak rezim Arab dengan Amerika Serikat telah membuat posisi politik mereka sering kali tampak ambigu. Padahal, Amerika Serikat selama beberapa dekade merupakan pendukung utama Israel, baik dalam bidang militer, diplomatik, maupun politik internasional.

 

Karena itu, membaca dinamika Timur Tengah tidak cukup hanya dengan membagi kawasan ini ke dalam dua kubu yang saling berhadapan. Yang sedang berlangsung sesungguhnya adalah pertemuan berbagai kepentingan geopolitik, ideologi, keamanan, ekonomi, dan perebutan pengaruh regional yang sangat kompleks. Palestina sering kali justru menjadi korban dari pertarungan kepentingan tersebut.

 

Apa pun penjelasannya, satu hal tampak semakin jelas. Timur Tengah sedang memasuki fase baru. Negara-negara Arab yang selama ini lebih mengandalkan strategi defensif mulai menunjukkan keberanian mengambil langkah yang lebih ofensif terhadap Iran. Pertanyaan besarnya tidak lagi apakah keseimbangan kekuatan sedang berubah, melainkan seberapa besar perubahan itu akan mengubah konfigurasi kekuasaan di Timur Tengah dalam beberapa tahun mendatang, serta apa dampaknya terhadap masa depan Palestina dan stabilitas kawasan secara keseluruhan.

Oleh: Muttawakil Abu Ramadhan

blank

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

blank
Opini

Rumpikota.com Indramayu, Jalur Pantura yang sangat legendaris serta strategis memang menyisakan banyak cerita, salah satunya dengan istilah “Jalur Prostitusi” dimana pemandangan warung remang-remang seperti sudah…