Oleh : Simone McCarthy (Senior China Reporter for CNN International)
RumpikotaCom – Presiden AS Donald Trump telah meninggalkan China setelah KTT dua hari yang dipenuhi kemegahan seremonial dan janji-janji stabilitas. Namun, di balik karpet merah dan klaim “kesepakatan dagang fantastis”, analisis mendalam terhadap pertemuan tersebut menunjukkan bahwa ujian sesungguhnya dari hubungan dua kekuatan super dunia ini berpusat pada satu pulau yang diperebutkan secara sengit: Taiwan.
Dalam KTT yang berlangsung di Beijing, Pemimpin China Xi Jinping menyampaikan retorika paling tajam dan eksplisit terkait status pulau berpemerintahan mandiri tersebut. Sebaliknya, tanggapan Trump—atau sekadar keputusannya untuk tidak memberikan pembelaan publik yang agresif terhadap Taiwan selama di Beijing—menjadi sorotan utama para analis geopolitik.
Peringatan Keras Xi Jinping di Garis Merah
Pada pertemuan bilateral hari pertama di Balai Agung Rakyat, Xi Jinping tidak menahan diri. Menurut laporan resmi Kementerian Luar Negeri China, Xi secara blak-blakan menyebut masalah Taiwan sebagai “isu paling penting dalam hubungan China-AS.”
Xi memperingatkan Trump untuk “berhati-hati secara ekstra,” dan menegaskan bahwa jika masalah ini salah ditangani, kedua negara dapat menghadapi “benturan dan bahkan konflik, yang akan menempatkan seluruh hubungan bilateral dalam bahaya besar.”
Bagi Beijing, Taiwan adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Xi, yang memandangkan penyatuan Taiwan dengan daratan China sebagai bagian inti dari warisan politiknya, ingin memanfaatkan momentum KTT ini untuk menekan AS agar menghentikan pasokan senjata defensif ke pulau tersebut. Sebelum perjalanan Trump, Gedung Putih dilaporkan sempat menahan rencana paket penjualan senjata senilai miliaran dolar ke Taiwan, sebuah langkah yang diincar Beijing untuk dipermanenkan.
Strategi “Tanpa Komitmen” dan Ambiguitas Trump
Namun, bagaimana Trump menanggapi gertakan tersebut? Alih-alih memicu konfrontasi langsung di Beijing, Trump memilih untuk menjaga kartu-kartunya tetap tertutup dan mempertahankan doktrin tradisional AS, yaitu “ambiguitas strategis.”
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat, Trump mengungkapkan, “Mengenai Taiwan, dia (Xi) merasa sangat kuat. Saya tidak membuat komitmen apa pun, baik setuju maupun tidak.” Trump menambahkan dengan nada optimis khasnya, “Saya rasa kita akan baik-baik saja. Dia tidak menginginkan perang.”
Dalam wawancara lanjutan setelah KTT, Trump menegaskan kembali bahwa “tidak ada yang berubah” mengenai kebijakan resmi AS terhadap Taiwan, meskipun ia mengakui belum memutuskan apakah akan menyetujui sisa paket penjualan senjata besar untuk pulau tersebut dalam waktu dekat.
Para pengamat menilai sikap bungkam dan ambiguitas Trump di hadapan Xi adalah hasil dari kalkulasi yang disengaja. Di satu sisi, Trump berhasil menghindari “jebakan” Beijing yang ingin memaksanya membuat pernyataan sepihak yang merongrong kedaulatan Taiwan. Di sisi lain, pendekatan ini mencerminkan gaya kepemimpinan Trump yang sangat transaksional, di mana isu keamanan kerap kali dijadikan alat tawar-menawar untuk keuntungan ekonomi.
Kelegaan Sekaligus Kecemasan di Taipei dan Tokyo
Bagi Taipei, kebungkaman Trump pasca-pertemuannya dengan Xi dipandang sebagai hasil terbaik yang bisa diharapkan dalam situasi yang tidak menentu. Pemerintah Taiwan sebelumnya khawatir bahwa Trump, yang sulit diprediksi, mungkin akan mengorbankan dukungan jangka panjang Washington demi mendapatkan “kesepakatan besar” terkait masalah luar negeri lainnya atau perdagangan.
Meski lega karena tidak ada konsesi besar yang diberikan Trump kepada Xi, para pejabat di Taiwan dan sekutu regional seperti Jepang tetap menaruh kewaspadaan tinggi. Tokyo, yang wilayahnya sangat dekat dengan Selat Taiwan, khawatir jika AS melonggarkan postur pencegahannya (deterrence), hal itu dapat memicu Beijing untuk bertindak lebih agresif di masa depan.
Diplomasi Transaksional: Mengutamakan Bisnis daripada Rivalitas Militer
Fokus utama kunjungan Trump ke Beijing kali ini jelas bergeser dari persaingan militer ke meja ekonomi. Trump membawa serta belasan CEO teknologi dan bisnis papan atas Amerika, termasuk Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, dan Jensen Huang dari Nvidia. Kehadiran para raksasa teknologi ini menegaskan bahwa bagi Trump, stabilitas pasar dan rantai pasok global adalah hal utama.
Di akhir kunjungannya, Trump mengklaim telah mencetak kesepakatan dagang yang menguntungkan, termasuk komitmen Tiongkok untuk memesan 200 unit pesawat komersial Boeing serta peningkatan pembelian komoditas pertanian. Langkah ini diambil oleh Beijing yang juga tengah menghadapi tantangan ekonomi domestik dan ingin mengunci “gencatan senjata tarif” sebelum masa relaksasi berakhir pada Oktober mendatang.
Keseimbangan Baru yang Rapuh
Pada akhirnya, KTT Beijing berhasil meredakan risiko eskalasi militer dalam jangka pendek dan memberikan ruang bernapas bagi ekonomi global. Namun, analisis situasi menunjukkan bahwa pertemuan ini tidak menghasilkan terobosan substantif untuk menyelesaikan persaingan struktural yang mendalam—baik itu masalah kedaulatan Taiwan, perang proksi energi, maupun perlombaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Hubungan AS-China kini telah mencapai titik “keseimbangan baru yang rapuh.” Kedua negara sepakat untuk tidak saling memicu konflik terbuka demi stabilitas ekonomi masing-masing, tetapi fondasi dari ketegangan tersebut tetap ada dan siap bergejolak kembali kapan saja. Babak berikutnya dari drama geopolitik ini akan berlanjut pada musim gugur mendatang, saat Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan balasan ke Amerika Serikat atas undangan Trump.











